Rabu, 12 Agustus 2015

Dibatas Asa "Part 1"



Waktu sudah menunjukkan pukul 10.15 pagi, sudah hampir memasuki tengah hari. Aku sudah bersiap meninggalkan kost menuju terminal angkutan umum menuju desa kecilku. Sebulan sekali aku pulang ke Desa dimana aku dilahirkan. Aku memilih hidup di Kota Samarinda ini bukanlah tanpa alasan, berusaha membiayai hidupku sendiri tanpa membebani orang tuaku lebih banyak lagi. Sudah kurang lebih 8 tahun aku menjalani kehidupan seperti ini. Bekerja dari satu tempat ketempat yang lain hingga akhirnya kuputuskan menetap pada satu pekerjaan ini, aku dipercaya mengelola sebuah minimarket sederhana oleh seorang pengusaha muda disini sambil kembali melanjutkan studiku disebuah perguruan tinggi negeri ternama di Kota ini.
            Kini aku sudah berada ditepi jalan menunggu angkutan kota yang akan membawaku keterminal yang ingin kutuju. Cukup lama juga waktu yang kubutuhkan menunggu angkutan itu, hal ini disebabkan makin berkurangnya jumlah angkutan umum seiring semakin banyaknya jumlah kendaraan pribadi yang lalu lalang disetiap ruas jalan dikota ini. Dimataku, keberadaan angkutan umum di Kota ini nyaris tersisih.
            47 menit kemudian akhirnya aku tiba diterminal angkutan umum yang akan membawaku pulang ke Desaku. Butuh waktu 2 jam perjalanan untuk sampai ke Desa setelah melewati jalan yang tak seluruhnya tertutup aspal. Bahkan setelah melewati perbatasan Kecamatan Anggana, jalan yang dilalui bisa dibilang sangat kurang layak dilewati kendaraan roda 4. Dikarenakan lebar jalan yang tak memenuhi standar, beberapa bagian jalan ada yang hanya ditaburi bongkahan batu kecil, kerikil dan pasir. Bahkan diantaranya tak jarang hanya tanah liat berwarna kuning, melalui perbukitan dan tanjakan di Desa Kutai Lama yang licin ketika hujan mengguyur permukaan jalan. Tak jarang pula justru jalan tersebut menjadi sangat berlumpur dan tak dapat dilaui kendaraan.
            Namun ada hal yang tetap aku syukuri, meskipun infrastruktur dan akses dari Desa ku kekota terbilang sulit, kehidupan masyarakat di Desaku tetap stabil. Stabil perekonomiannya juga stabil keharmonisan hubungan antar warganya. Kendaraan yang membawaku menuju Desaku kini berjalan mendaki bukit, cuaca amat terik, kugeser sedikit kaca jendela mobil untuk sekedar menghirup udara segar khas pedesaan. Seketika pula terpampang sebuah pemandangan yang indah nan eksotis didepan mataku. Dimana perbukitan hijau yang dihiasi hamparan ilalang bergoyang-goyang diterpa hembusan angin. Pemandangan indah yang tak bisa kulihat dikota dan hanya bisa kunikmati sebulan sekali. Aku dan teman-temanku dulu sering menyebutnya Bukit Teletubies Made in Kutai Lama, mengingat bentuknya yang mirip dengan bentuk bukit pada sebuah serial televisi anak-anak jaman dulu.
Kurang lebih 40 menit kemudian akhirnya aku turun dari kendaraan yang membawaku hingga ke Desa ini. Kulirik arloji dipergelangan tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 14.10 siang, mengingat kendaraan yang kutumpangi tadi berangkat pukul 12 lebih 15 menit. Aku turun dari kendaraan tepat didepan sebuah Madrasah Tsanawiyah. Sekolah dimana aku memulai masa remajaku dulu.
Sejenak aku teringat betapa dulu aku dan sahabat-sahabatku suka sekali menghabiskan waktu bersama dengan bermalas-malasan diperpustakaan kecil sekedar membuka-buka buku ensiklopedia yang dulu rasanya amat menarik. Atau terkadang berebut meminjam buku-buku bacaan lalu membawa pulang kerumah sesuka hati tanpa melaporkan pada pengelola perpustakaan. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri mengingat kejadian-kejadian yang menurutku lucu saat itu.
Setelah itu aku pun melanjutkan langkahku menuju rumah, yap aku harus berjalan kaki sekitar 7 menit untuk sampai dirumahku yang letaknya dekat sekali dengan sungai. Lazimnya masyarakat pedesaan yang terbiasa hidup mendekati sungai, begitu pula yang terjadi didesaku. Rumah orang tuaku letaknya amat dekat dengan anak sungai Mahakam.
Sekitar 10 langkah aku beranjak dari depan Madrasahku, aku seperti mendengar sebuah langkah dibelakangku, suasana jalanan Desa yang sepi membuatku berusaha tak peduli, pikirku mungkin warga sekitar sini saja yang juga sedang menuju kerumahnya atau suatu tempat.
Kuhentikan langkah sesaat, tapi suara langkah itu menghilang. Aku tak mau berprasangka, sehingga aku tak mencoba menoleh kebelakang. Aku melangkah lagi dijalanan yang sepenuhnya dibangun dari susunan papan dan tonggak kayu. Suara langkah dibelakangku pun terdengar lagi. Kegugupanku membuat aku makin meremas erat tali ranselku. Sampai akhirnya aku mendengar suara seorang lelaki memanggilku.
“Nuy…?” Aku terkesiap, orang ini memanggilku dengan nama itu, tanpa berpikir panjang aku langsung membalikkan badanku. Dan lagi aku benar-benar terkejut dibuatnya.
“Hai” Hanya kata itu yang berhasil keluar dari bibirku setelah aku melihat langsung siapa sosok yang sejak tadi berjalan dibelakangku.
“Wah benar kamu rupanya, apa kabar?” lelaki itu tersenyum padaku sambil mendekat. Lelaki itu bernama Rian, dan ketika MTs dulu kami pernah saling menyukai lalu berlanjut pada hubungan yang lebih dekat, bahasa kerennya Pacaran.
“Alhamdulillah baik” Jawabku berusaha memulihkan rasa terkejutku. Spontan aku membalas senyum lelaki bertubuh atletis dan berkulit bersih ini.
“Baru pulang?” Tanyanya lagi memecah kesunyian diantara kami.
“Ah iya, tadi naik angkutan umum, kayak biasa. Kabarmu gimana?” Tanyaku padanya. 5 tahun yang lalu adalah pertemuan terakhir kami secara langsung. Setelah itu, setiap kali aku pulang ke Desa, jarang sekali aku melihatnya, bahkan saat SMU jika melihat pun hanya sebatas melihatnya melintas dijalan saja. Tak lagi pernah bertukar sapa.
“Alhamdulillah aku masih sehat seperti sekarang” Jawabnya sambil tersenyum lagi. Ah senyum itu, tetap semanis dulu. “Sudah berapa tahun ya kita nggak pernah bicara begini lagi hahaha…” Lanjutnya dengan nada canggung.
“Hmmmm… berapa tahun ya, lupa juga nggak ngitung sih” Jawabku berbohong, padahal aku tahu persis sudah 5 tahun. Bukan aku merasa gengsi atau jaim, hanya saja aku berusaha menyembunyikan ekspresi wajahku yang hampir salah tingkah.
“Ah kamu sih selalu begitu, aku tau kok kamu setiap sebulan sekali balik kesini kan? Tapi kamu pelit, dirumah mulu nggak pernah keluar-keluar. Tau-tau besoknya udah balik aja lagi ke Samarinda”. Celotehnya panjang lebar sambil berjalan perlahan-lahan. Aku pun terbawa suasana dan ikut-ikutan jalan perlahan.
“Hehehe… Oh itu, iya sih aku jarang keluar. Soalnya kadang udah capek, jadi males keluar-keluar” Jawabku berusaha membuat suasana menjadi nyaman.
“Eh itu rumahmu sudah dekat, aku balik dulu deh ya” Ujarnya mengakhiri pembicaraan, sembari menghentikan langkah.
“Oh iya, hati-hati dijalan kalau gitu” Jawabku sambil tersenyum lalu melanjutkan langkahku menuju rumah.
“Eh iya Nuy… Btw nanti malam, ba’da Isya aku boleh main kerumahmu?” Tanyanya, membuat langkahku terhenti sekali lagi.
Deggh..!!! Aku merasa ada debaran kencang tak wajar didadaku, bahkan aku merasa dia pun mungkin mendengar debaran ini. Sebelum debaran ini sulit kukendalikan, akupun berpaling sekilas lalu mengangguk padanya. Selanjutnya aku mempercepat langkah tanpa menoleh lagi padanya. Tiba-tiba aku merasa takut. Takut jika dalam kondisi seperti ini, senyumnya akan menangkap hatiku lagi, seperti dulu.
                                                                        ^_^ * * * ^_^

To Be Continue...

Sabtu, 25 April 2015

♥ Hello My First Love ♥




“Crazy Little Thing Called : Love”
            Setiap kali aku menonton film itu, aku teringat kembali pada saat dimana aku baru merasakan yang namanya jatuh cinta. Antara bahagia, gugup, gemetar, konyol semuanya rasa itu bercampur aduk menjadi satu, dan berhasil mengalirkan perasaan hangat di hati juga membuat detak jantungku berpacu lebih cepat. Hal sederhana pun bisa terasa istimewa kala debaran jantung semakin kencang meskipun hanya berpapasan dengannya. Tanpa saling tatap, tanpa sapa dan tanpa sentuhan. Bahkan dunia terasa sudah menjadi begitu indah. Tak jarang telapak tangan tiba-tiba menjadi dingin saat akan berbicara dengannya. Hanya dengan interaksi sederhana, mampu memberiku efek yang luar biasa.
            Teringat kembali saat pertama saling menyapa, pandangan tak bisa terfokus pada satu objek. Melainkan beralih kemana-mana, dari objek yang satu ke objek yang lain (bilang ajah salah tingkah). Seiring dengan kencangnya debaran jantung, tak sedikit pun aku berani menatap matanya. Entah karena terlalu bahagia, atau mungkin terlalu takut moment itu berlalu.
            Sebenarnya saat itu kupikir masih terlalu dini bagi gadis seusiaku untuk mengerti yang namanya cinta. Tapi siapa yang bisa menduga, cupid itu justru menancap tepat sasaran pada hati seorang bocah perempuan kelas 1 SMP yang bahkan belum genap berusia 12 tahun. Indah… itulah hari-hari yang kurasakan di tahun pertamaku duduk di bangku SMP. Jatuh cinta pada seorang bocah lelaki yang kala itu 1 tingkat di atasku. Lelaki yang menurutku paling imut diantara teman-teman sekelasnya. Dia jago bahasa Inggris, sering kali dia menuliskan kalimat dengan bahasa Inggris ketika mengirimiku surat. Sebuah surat yang tidak bisa dibilang romantis, tapi cukup kuat untuk membuat perasaanku bergetar.
            Setiap kali aku melihatnya lewat dikoridor kelas, rasanya ingin sekali aku berlari menyongsong langkahnya, untuk sekadar menyapa dan mengatakan betapa aku merindukan senyumnya. Ingin sekali aku mengatakan, “Tahukah kamu bahwa aku jatuh cinta?”. Tapi semua itu hanya tersimpan dalam pikiran, tanpa berani untuk mengatakan. (Yaaaaaa.. namanya juga masih mental bocah ^o^).
            Pernah merasakan senangnya saat dia mengikutiku kemana-mana secara diam-diam. Meski sebenarnya aku menyadarinya, namun aku berpura-pura tak mengetahuinya. Sekarang aku seringkali menertawakan tingkah konyolku dulu. Masih terbayang wajah manisnya kala tersenyum, dia lelaki pertamaku yang mengatakan bahwa dia menyukaiku. Lelaki pertama yang mencintaiku dan lelaki pertama yang hatinya kukecewakan. Namun meskipun demikian, hingga kini  tak pernah aku merasa ada permusuhan diantara kami. Seberapa lama pun putus komunikasi.
            Kelas 3 SMA adalah saat dimana aku benar-benar ingin fokus pada sekolahku, karena di kelas 3 SMA adalah waktu tersingkat yang kulalui pada babak akhir wajib belajarku. Tapi siapa yang akan menyangka justru aku kembali merasakan debaran lembut nan indah mendekati moment ujian nasional. Ya… aku kembali jatuh cinta saat itu, pada seorang lelaki pemilik senyuman termanis diantara saudara-saudara lelakiku yang tengah berkumpul dalam sebuah acara keluarga.
            Tak pernah terlintas dibenakku jika pertemuan dihari itu adalah awal sebuah hubungan yang hingga hari ini pun masih tetap misterius bagiku. Dia seseorang yang tidak suka cari perhatian, bahkan terkesan menghindarkan diri dari kesibukan diacara hari itu. Namun dia suskses mencuri perhatianku. Dengan tingkahnya yang terkesan cuek, aku menangkap senyum tipis yang kuyakini bahwa senyum itu untukku.
            Lepas acara keluarga itu, akhirnya waktu memberi kami kesempatan untuk saling bertukar kata, bertukar cerita dan pengalaman hidup hingga akhirnya bertukar nomor kontak pribadi. Dari sanalah kemudian kisah kami dimulai. Mulai dari saling memberi perhatian, meskipun intensitas pertemuan sangat jarang. Berhubung beda sekolah, setiap hari aku hanya berharap dapat melihat wajahnya saat berpapasan dijalan raya. Sebuah hubungan yang unik menurutku, dimana hati rasanya begitu terikat erat satu sama lain, tanpa pernah mendapatkan pengakuan cinta dan bahkan tanpa pernah jalan berdua.
            Yang pasti manisnya cinta kali ini tak kalah indah dengan cinta yang kurasakan ditahun pertamaku duduk dibangku SMP dulu. Aku mencoba berbagai cara agar hubungan antara aku dan dia tetap berjalan dengan baik. Akhirnya titik cerah itupun terlihat, manakala organisasi ekskul yang kuikuti disekolahku kemudian mencoba mensosialisasikan organisasi kami disekolahnya. Bahkan yang membuatku lebih bahagia lagi, dia ternyata sudah pula mendaftar sebagai anggota ekskul tersebut disekolahnya. Akhirnya aku tak perlu lagi mencari-cari alasan untuk bisa tetap terhubung dengannya. Setidaknya seminggu sekali kami bisa bicara tatap muka secara langsung, meskipun kadang hanya sekedar untuk menanyakan kabar masing-masing. Selebihnya komunikasi hanya kami lakukan lewat ponsel saja.
            Disini, hari ini… aku masih bisa merasakan, hangatnya cinta itu. Dulu aku pernah berkeyakinan cinta pertama itu cinta yang tak akan pernah terlupakan. Sekalipun perasaan itu telah memudar. Sudah sejak bertahun-tahun yang lalu, selepas kelulusan SMA, tak pernah sekalipun aku merasakan cinta semanis itu. Dia yang pertama, dan dia seseorang yang kukenal saat kelas 3 SMA adalah lelaki pertama yang membuatku mengerti, jika meskipun itu adalah rasa yang tak terucapkan dengan kata-kata tapi membuatku mengerti arti berjuang meskipun hanya untuk melihatnya tersenyum, juga pernah membuatku merasakan cinta yang sama. 2 orang yang berbeda, namun cinta mereka benar-benar membuat hatiku selalu hangat.
Dia cinta pertama di kelas 1 SMP, kujatuh cinta saat Ayah & Bunda tak bersamaku karena merantau kekota orang. Dia yang membuatku jatuh cinta saat di kelas 3 SMA, saat aku kembali berada jauh dari Ayah & Bunda demi menempuh pendidikanku. Keduanya sama-sama indah. Keduanya sama-sama membuat debaran jantungku benar-benar bekerja lebih cepat, keduanya yang kini tak lagi kuketahui keberadaannya. Kalian berdua yang pada akhirnya kuanggap sebagai orang-orang hebat, yang mampu membuatku merasakan manisnya cinta di masa remaja.
Yang pada akhirnya, pada kalian berdua ingin ku ucapkan terima kasih atas cinta yang pernah kalian berikan untukku. Meski mungkin pesan ini hanya dapat kukirimkan lewat hembusan angin yang entah akan bisa sampai atau tidak. Semoga kalian diberi kelapangan dan kemudahan hidup. Dan terakhir, untuk kalian berdua, terima kasih telah pernah hadir dalam hari-hariku, dalam hatiku dan dalam kisahku. Dan terima kasih telah membuatku jatuh cinta.
                    


Jumat, 17 April 2015

My World Is My Dream




            Sebelumnya tak pernah terpikir olehku akan masuk kedunia itu. Sebuah dunia yang sangat sulit untuk dikatakan sebagai dunia nyata. Kejenuhan pada rutinitas harian membuatku akhirnya mencoba sedikit mengintip dunia itu. Sekitar bulan November 2010 aku memasuki dunia yang sebelumnya sedikitpun tak aku mengerti, yang lebih sering disebut dunia virtual atau game online. Dunia yang kumasuki adalah dunia game online bergenre petualangan fantasi bernama Lineage 2 Indonesia. Didunia yang asing ini sangat didominasi oleh para kaum Adam, sehingga diawal aku merasa amat tersisih. Namun lambat laun aku pun semakin tertantang untuk menunjukkan eksistensiku didunia ini. Dengan harapan setidaknya mereka melihat keberadaanku didunia ini.
            Waktu demi waktu kulalui demi menjalani kehidupan didunia virtual ini, meskipun begitu aku tetap menjalani aktivitas didunia nyata sebagaimana mestinya. Dua bulan berlalu, aku mulai terbiasa beradaptasi dengan kondisi dimana lebih banyak lelaki ketimbang perempuan. Saat itu player[1] perempuan masih sangat jarang menyentuh dunia virtual ini, bisa dibilang langka karena populasinya yang nyaris tak terdeteksi. Kondisi yang demikian membuat aku makin berusaha agar terlihat menonjol, aku berusaha menambah teman sebanyak-banyaknya. Hingga akhirnya aku benar-benar tenggelam dalam dunia ini, aku benar-benar menikmati peranku dalam dunia virtual itu.
            Dalam dunia ini aku banyak membandingkan cara bersosialisasi dunia virtual dan dunia nyata. Dimana hubungan antara para player tak pandang usia, status sosial maupun pendidikan. Hubungan antara para player dalam dunia virtual itu tak mengenal kasta, agama maupun suku. Sekalipun musuh atau rekanmu adalah seorang big bos didunia nyata, tak ada kata segan berhadapan dengannya didunia virtual ini. Hubungan baik sebagai rekan ataupun sebagai musuh dalam dunia game online ini bagai tak ada batasan. Kita bebas berteman dengan siapapun yang kita mau. Dan akupun ikut ambil bagian dalam segala sesuatu yang ditetapkan dan menjadi aturan main dalam dunia ini.
      Memiliki teman dari berbagai kota dan pelosok diseluruh nusantara benar-benar mengesankan bagiku. Hal menakjubkan yang kudapati dunia ini adalah banyak diantara mereka yang begitu besar hati dan kepercayaannya pada orang yang dipercayai. Sekalipun belum pernah saling bertemu, namun jika mereka yakin, mereka akan mempercayakan amanahnya padamu. Tentu saja selain banyak memiliki kawan, aku sebagai salah satu player juga memiliki lawan atau musuh, baik musuh secara personal maupun musuh secara kelompok. Dan tentu saja hanya musuh dalam dunia virtual. Selain rekan dan musuh tentu saja aku memiliki seseorang yang spesial dalam dunia ini. Berawal dari dunia virtual hingga kedunia nyata, hubungan itu dijalani dengan kepercayaan penuh, bahwa perasaan itu benar-benar nyata meskipun akhirnya harus LDR[2]. Sudah seperti cerita Asuna dan Kirito[3] saja hahaha.
            Dua tahun berpetualang dalam dunia virtual ini, akhirnya membuat aku memiliki sebuah impian baru. Ya sebuah impian yang terinspirasi dari hobby-ku ini. Aku ingin menuliskan pengalamanku bermain game online ini kedalam bentuk cerita fantasi persis seperti game-nya. Berharap suatu saat tulisanku itu dapat diterbitkan dalam bentuk novel. Sejak impian itu muncul, akhirnya aku mulai menulis. Menuliskan pengalamanku mulai dari awal aku terjun dalam dunia virtual tersebut sampai akhirnya pada 21 April 2014, publisher yang mengelola game online Lineage 2 Indonesia mengumumkan akan menutup game tersebut dikarenakan berakhirnya masa kontrak dengan pihak developer.
Hingga April tahun lalu sudah 31 chapter yang berhasil kutulis bermodalkan dengan menguras habis ingatan dan kenangan-kenangan itu sedetail mungkin selama hampir empat tahun aku berpetualang dalam dunia fantasi itu. Sekeping demi sekeping aku mencoba menyusun gambarannya secara garis besar layaknya menyusun kepingan puzzle. Bukan hal yang mudah mengingat hal-hal detail dari pengalaman yang pernah dilalui agar dapat dituangkan dalam bentuk tulisan dan tentu saja agar cerita itu menjadi lebih hidup bagi para pembacanya. Sejak dunia virtual itu berakhir aku pun jadi semakin kesulitan meneruskan tulisanku, sudah setahun ini aku menunda kelanjutan cerita itu, walaupun aku yakin pembacaku amat sangat menantikan kelanjutannya. Selain dikarenakan semakin banyaknya kesibukanku didunia nyata saat ini, ingatan tentang peristiwa-peristiwa penting dan detail mulai memudar.
Hingga sekarang pun aku masih berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang berguna untuk mendapatkan cara agar aku bisa kembali masuk kedalam dunia itu. Supaya aku kembali dapat mengingat setiap bagian dan sudut dunia itu untuk kuceritakan dalam kisah selanjutnya. Cerita yang kutulis dalam dunia Lineage 2 Indonesia kumuat dalam blog pribadiku dengan judul You're My Destiny. Aku menyadari sepenuhnya jika tulisanku mungkin masih jauh dari kata layak untuk diterbitkan menjadi sebuah novel, namun aku percaya jika aku terus belajar dan memperbaikinya tulisanku akan siap dibukukan.
Bagaimana aku mewujudkan impian itu? tentu saja aku dengan menulis dan terus menulis dan berusaha mencapai yang terbaik dalam tulisanku.
           


[1] Orang yang memainkan sebuah game
[2] Long Distance Relationship
[3] Serial Anime Sword Art Online (Link Trailer Sword Art Online Official Trailer )

Rabu, 11 Februari 2015

Bersahabat Dengan Logika "Part 1"


Tiga puluh menit sudah aku duduk di Halte Bus ini, tapi angkutan umum yang kutunggu tak kunjung muncul. Tak jarang aku dibuat dongkol dengan kondisi seperti ini setiap kali aku akan pulang kuliah. Sudah beberapa tahun belakangan ini, angkutan umum kulihat makin sedikit saja, dikalahkan oleh kendaraan-kendaraan pribadi berplat dalam maupun luar kota Samarinda. Kulirik arloji sekali lagi, waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat 38 menit. Langit sudah semakin gelap dan hanya menyisakan sedikit semburat jingga diufuk barat. Perlahan gerimis turun, dan aku jadi makin gelisah. 

Jika malam ini hujan maka aku akan semakin sulit mendapatkan angkutan umum menuju kostku. Kekhawatiran lain muncul, mengingat jika hujan lebat yang mengguyur kota Samarinda turun lebih dari satu jam saja, maka akan terjadi banjir dibanyak titik disetiap bagian Kota, bahkan pusat Kota pun tak luput dari genangannya. Seiring detik demi detik jarum jam yang terus berdetik, aku makin tak sabar menunggu angkutan umum yang lewat untuk membawaku kembali pulang ke kost. 

Rasa dingin yang mulai muncul, membuatku kembali merapatkan jaket Jeans kusam yang biasa kupakai. Kuputuskan untuk duduk dibangku halte sambil tetap mengamati jika ada angkutan umum yang lewat. Tak lama kemudian ponselku bergetar, kulihat layar ponsel ada panggilan masuk, tertera nama Arfan disitu, lalu segera kujawab.

"Ya hallo, kenapa Ar?" Tanyaku.

"Kamu lagi dimana Ra? Bbm ku ga dibaca?" Arfan balik bertanya padaku.

"Masih nunggu angkot nih, di tempat biasa, sorry aku nggak tau ada Bbm masuk, soalnya HP ku masih silent" Ujarku menjelaskan.

"Oh gitu, ya udah hati-hati dijalan, nanti kalau sudah sampai kost kabarin ya?" Kata Arfan.

"Harus ya aku selalu laporan sama kamu kemana-mana?" Balasku sewot yang sudah terlanjur bad mood.

"Iya dong, aku mesti tau kamu disana gimana Ra, kan kita nggak selalu bisa bareng tiap hari. Setidaknya aku tau gimana keadaan kamu" Jawab Arfan tenang.

"Ya udah, kenapa nggak sekalian aja kamu kirimin aku Bodyguard buat ngawal aku kemana-kemana" Jawabku makin sewot.

"Ya enggak segitunya juga kali Ra, kamu kok sewot sih?" Ujar Arfan yang terdengar kebingungan dengan sikapku yang tiba-tiba emosi.

"Habisnya kamu tuh bikin kesel, aku tuh juga disini punya kesibukan kali, nggak penting banget setiap waktu ngabarin kamu, Bbm nggak dibaca aja udah langsung ditelponin, Bbm nggak sempet bales aja udah langsung protes" Jawabku makin kesal.

"Eh kok jadi marah? Aku cuma khawatir sama kamu. Kamu kenapa sih Ra?" Tanya Arfan.

"Kamu tuh yang kenapa, udah berapa kali aku bilang, nggak usah khawatir berlebihan gitu kenapa sih? aku bukan anak kecil kali, yang kemana-mana harus dimonitor terus. Aku bisa ngelakuin semuanya sendiri tanpa kamu komentari terus, posesif tau nggak kamu tuh, aku nggak suka!" Jawabku makin sengit.

"Ra, aku nggak bermaksud posesif, aku gini tuh karena aku sayang sama kamu, kamu tau itu kan?" Ujar Arfan membela diri.

"Sayang? Udah Basi alesan kamu! Asal kamu tahu, yang namanya sayang juga pake logika" Jawabku ketus, lalu aku menutup telepon.

Beberapa detik kemudian ponselku kembali bergetar, dilayar kembali tertera nama Arfan, dengan perasaan yang masih dongkol ku reject berkali-kali panggilan dari Arfan. Aku kembali memperhatikan kondisi jalan, di kejauhan tampak angkutan umum yang kutunggu berjalan pelan. Aku mencoba menghentikan, namun sang sopir tak menepi, setelah dekat barulan aku tahu alasannya kenapa sopir tak berhenti. Penumpang dalam angkutan terlihat penuh dan sudah sesak. 

Akupun kembali kebangku, sesaat aku baru menyadari ternyata di halte ini aku tak lagi sendiri. Ada seorang pemuda lain yang juga tengah menunggu. Ia tengah asik dengan ponselnya. Berbeda denganku yang dengan sigap memperhatikan lalu lintas, pemuda ini tampak santai saja duduk dibangkunya, sepertinya ia tak terburu-buru. Lepas dari memperhatikan pemuda itu sekilas, aku merasa udara kencang berhembus, tetes-tetes hujan yang tadinya kecil mulai membesar, langit sudah sepenuhnya gelap. Aku makin gelisah, sebab biasanya jika hujan lebat dan banjir, gang sempit tanpa parit menuju kost ku juga pasti tergenang cukup dalam.

Beberapa menit kemudian hujan makin deras mengguyur kota Samarinda, aku yang tadinya berdiri ditepi halte terpaksa mundur 3 langkah demi menghindari cipratan air hujan yang membasahi lantai halte. Sekali lagi aku merapatkan jaketku untuk mengurangi rasa dingin yang mulai menjalar. Pemuda yang asik dengan ponselnya tadi kini menatap kearahku,sambil tersenyum sekilas dia mempersilahkan aku duduk.

"Duduk saja dulu mbak, dari pada berdiri. Ini kan masih banyak bangku kosong" Ujarnya padaku.

"Iya terima kasih" Jawabku sambil duduk di bangku disudut kanan halte.

"Kok jauhan mbak? Tenang saya nggak gigit kok" Jawabnya seraya tersenyum.

"Iya nggak apa-apa, dingin soalnya jadi merapat ketembok biar nggak dingin-dingin banget" Jawabku beralasan.

"Gitu ya" Lalu pemuda itu beranjak dari bangkunya kemudian berjalan kesisi halte sebelah kiri lalu meraba tembok dengan tangannya. "Wah iya bener, temboknya hangat mbak" Ujar pemuda itu lagi, lalu ia duduk sambil bersandar pada sisi tembok halte bagian kiri.

Tak lama kemudian hujan mulai reda, hanya gerimis yang tersisa, aku kembali melirik arloji di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit. Begitu aku ingin beranjak dari tempat dudukku, tiba-tiba pemuda tadi melompat dari bangkunya lalu menghentikan sebuah angkutan umum yang tengah lewat. Aku pun bergegas pula ikut menghampiri angkutan tersebut. Pemuda itu mempersilahkan aku naik terlebih dahulu. Aku pikir pemuda tadi mungkin juga akan naik angkutan yang sama denganku, tapi ternyata setelah aku duduk dalam angkutan, pemuda itu malah dengan santainya kembali ke halte lalu duduk di bangku yang tadi dia tempati. Aku hanya sempat melihat ia melambaikan tangannya saja, sebelum akhirnya angkutan umum membawaku semakin menjauhi halte.

* * *

Sekitar 20 menit kemudian aku turun dari angkutan umum tak jauh dari Gang kecil meuju kost ku. Jalan sudah digenangi air sebatas pergelangan kakiku. Aku pasrah saja akhirnya melepas sepatuku lalu dengan kaki telanjang menghampiri warung kecil disamping Gang. Hujan sudah reda dan menyisakan genangan air yang makin meninggi. Dengan sisa uang yang kumiliki diawal bulan ini aku membeli beberapa butir telur ayam dan 4 bungkus mie instant serta sekaleng kecil ikan sarden dengan harga paling murah, ditambah sebungkus kecil abon sapi sebagai cadangan lauk. Akhir-akhir ini hujan turun lebih intens, terkadang dimalam hari ketika akan membeli beberapa makanan keluar hujan turun. Dan mau tak mau aku makan malam dengan yang ada dikostku saja. 

Setelah selesai membeli bahan makanan aku berjalan perlahan menerobos banjir yang dalamnya sudah hampir selutut didalam Gang sempit menuju kostku. Setiba dikost aku meletakkan belanjaanku diatas meja kecil, dimana setumpuk buku-buku kuliah juga kuletakkan. Tak banyak tempat kosong untuk meletakkan barang dikamar kost kecil dengan harga sewa empat ratus ribu rupiah perbulan. Lalu aku kekamar mandi mencuci kaki kemudian kembali kekamar dan merebahkan diri sejenak ditempat tidur.

Lima menit kemudian aku menyimpan belanjaanku kedalam wadah penyimpanan yang kumiliki. sekaligus mengambil segelas beras dan memasukkannya kedalam mangkok plastik untuk kucuci didapur. Dapur yang kumaksud bukanlah dapur sebagaimana biasanya. Hanya ada sebuah tempat pencucian piring dan meja rendah tempat dispenser yang bahkan sudah rusak pemanasnya. Tak ada kompor apalagi perlengkapan memasak layaknya sebuah dapur. Semua aktivitas memasak baik itu memasak nasi maupun memanaskan makanan kaleng atau memasak makanan instant kulakukan dikamar, dengan membiarkan jendela kamar atau pintu tetap terbuka sedikit. setelah memasukkan beras kedalam Rice Cooker miniku, akupun beranjak membersihkan diri kekamar mandi. Meskipun cuaca dingin tetap kupaksakan mandi, agar aku merasa lebih segar.

Setengah jam kemudian aku siap menyantap makan malamku yang sederhana. Ketika makan malamku hampir tandas, ponselku yang tergeletak di tempat tidur kembali berdering, sesaat aku melirik ada panggilan dari Ayah. Aku menghentikan sejenak kegiatan makan malamku, lalu menjawab panggilan itu. 5 menit kemudian setelah sambungan diakhiri aku melanjutkan melahap sisa makan malamku. Ayah memberitahukan aku jika akhir minggu ini ingin pulang kerumah, adik ku bisa menjemput setelah aku usai bekerja, dan aku pun menyetujuinya. Lagi pula memang sudah waktunya aku menyempatkan pulang kerumah orang tuaku di desa yang hanya bisa kulakukan sebulan sekali disela-sela kesibukanku kuliah sambil bekerja.

Kemudian aku membuka laptopku dan mempelajari beberapa jurnal yang akan kujadikan referensi untuk mengajukan judul skripsi. Sudah 5 judulku ditolak oleh dosen pembimbing, hal ini tentu saja membuat aku gelisah. Selain karena waktu dan perhatianku tersita pula oleh pekerjaan, aku juga harus tetap fokus pada beberapa mata kuliah akhir yang tengah kutempuh. Ditambah pula Arfan yang selalu menuntut perhatian dan sering kali membuatku kewalahan menghadapinya.

Saat aku asyik mempelajari beberapa jurnal, ponselku berbunyi, menandakan ada pesan masuk lewat Bbm. Aku menyempatkan diri membaca isi pesannya yang ternyata dari Arfan.

Arfan : Lagi sibuk?
Me    : Baca Jurnal
Arfan : Aku mau telpon

Belum sempat aku membalas pesan, dilayar ponsel tertera nama Arfan. Dengan perasaan enggan akhirnya aku menjawab panggilan itu.

"Ra, udah sampe kost? udah makan?" Tanya Arfan

"Udah" Jawabku singkat

"Oh oke deh" Ujar Arfan lagi

"Udah gitu aja?" Tanyaku

"Hemmm.. ya" Jawabnya

"Ya udah" Lalu telepon kututup dan kulempar pelan kekasur, kemudian melanjutkan kegiatanku membaca jurnal.

Malam itu waktu terasa cepat berlalu, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat 5 menit. Akupun mematikan laptop dan bersandar pada bantal dipembaringanku, kuambil sebuah buku berjudul "The Uncensored Of Bung Karno" kubuka halaman bagian tengah dimana ada pembatas buku yang terselip. Aku kembali melanjutkan membaca biografi tokoh proklamator Negara ini, setelah beberapa hari tak sempat kubaca. Kekagumanku pada sosok kharismatik beliau membuatku semakin ingin tahu sejarah hidup orang nomor satu pertama di Indonesia ini. Setelah melewatkan lebih dari 7 halaman, aku pun mulai diserang kantuk yang cukup kuat, hingga akhirnya aku terlelap sendiri dikesunyian malam. 
 
*To Be Continue*

Rabu, 26 November 2014

Kamu Yang Aku Tak Tahu Namanya



 Bundaran Fekon

Hai kamu yang disana... apa kabarmu hari ini? ^_^
Jelang akhir tahun ini aku ingin sedikit bercerita tentang kamu. Ini sudah memasuki tahun ke 3 ku menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi di Universitas paling besar di Kota ini. Selama 5 semester ini nyaris setiap hari kita bertemu. Sudah sering kali kita ngobrol dan berdiskusi. Kita akrab??? bisa dikatakan demikian, karena disetiap kesempatan bertatap muka kamu tak pernah sekalipun absen memberiku senyuman hangat meski pun terkadang tanpa sapaan. Sikapmu yang agak cuek namun tidak kaku dan tidak juga sok akrab apalagi modus membuatku respect sama kamu. Kita seangkatan? Oh tentu saja tidak, kamu 1 tahun lebih dulu menginjakkan kaki dan menimba ilmu di kampus ini. Jadilah aku merasa berkewajiban memanggilmu dengan panggilan "Kakak" (Senioritas banget yeee hahaha... ^o^) dan kamu juga mungkin memiliki rasa senioritas yang cukup tinggi hingga memanggilku "Adek".

Aku tau kamu sibuk dengan pekerjaanmu, kamu juga harus sibuk dengan tugas-tugas kuliahmu. Tidak jarang kamu juga harus mengulang atau menunda mengambil beberapa mata kuliah demi menyesuaikan dengan jadwal kerjamu. Dan saat itu pula di beberapa semester kita kembali memasuki kelas dan kuliah yang sama. Atau jika SKS ku cukup untuk mengambil mata kuliah di semester atas, maka tak jarang kita kembali bertemu dikelas yang sama pula. Namun di tengah kesibukanmu yang tengah asik membahas tugas-tugas dari dosen, hari ini aku berpapasan denganmu. Dan seperti biasa, kamu selalu menyempatkan tersenyum hangat padaku sambil menyapa.

"Kuliah apa dek?" Tanyamu sambil tersenyum dan menyentuh lembut kepalaku
"MSDM 2 kak" Jawabku balas tersenyum sambil terus berlalu menuju ruang kelasku

Apakah hatiku berdebar-debar?? Tidak... mungkin karena sudah terbiasa seperti itu. Apakah aku senang? Tentu saja. Setidaknya kamu gak pernah modus seperti temen-temen lainnya yang tiba-tiba baik tapi ujung-ujungnya nebeng tugas. 

Aku masih ingat di semester pertamaku kuliah di kampus ini, 3 bulan pertama aku benar-benar tak menyadari kehadiran kamu di kelas Pengantar Bisnis. Hingga pada saat pergantian dosen setelah UTS aku baru ngeh ada mahluk cowok yang akhirnya aku panggil Kakak tiba-tiba ikut nimbrung saat aku dan teman-teman sekelasku tengah asik ngobrol disebuah tempat yang biasa kami sebut 'Bundaran Fekon'. dan malam itu kali pertama kamu memanggilku Adek sambil mengusap lembut kepalaku. Sejak saat itu kita mulai terbiasa saling senyum dan saling sapa kapan saja kita bertemu.

5 hari yang lalu ketika kita kembali bertemu dikelas yang sama, saat kelas telah berakhir kamu menepuk bahuku lalu berkata.

"Presentasi mu tadi bagus dek, walaupun hanya 1 slide tapi 5 poin yang tertulis di slide itu kamu jelaskan semua dengan detail, gk seperti yang lainnya yg cuma baca slide tapi tidak menjelaskan detailnya. Itu baru presentasi power point, yang lain ya power word kali ya" 

Dan aku pun menjawab

"Ya namanya juga power point kak, yang di tampilkan ya poin-poinnya saja lalu detailnya di jelaskan. Bukannya penjelasan detailnya juga di tulis di power point lalu di baca kan?" Ujarku

"He'eh bener gitu" Katamu lagi sambil mengusap lembut kepalaku

Dan kemudian aku pamit pulang lebih dulu. Walaupun sebenarnya aku masih ingin ngobrol lebih lama denganmu. Tapi waktu yang kian beranjak malam membuatku mengurungkan keinginanku.  

Ada saat dimana kamu pernah bercerita sedikit tentang pekerjaanmu, sedikit tentang wanitamu, dan sedikit tentang dosen-dosenmu juga sedikit cerita tentang kondisimu. Kita sering ngobrol ringan dengan teman-teman lainnya. Namun hingga hari ini, hingga kutuliskan cerita ini, tak pernah sekalipun aku bertanya langsung siapa namamu kak. Bukan karena aku takut, tapi memang aku tak ingin menanyakan itu. Aku percaya suatu hari nanti aku akan mengetahui dengan sendirinya, siapa nama dibalik sosok yang amat akrab dan hangat ini. Tak ada nomor telepon, pin BBM, Facebook, twitter atau kontak lainnya yang kupunya untuk menghubungimu diluar kampus. Bukan karena aku tak bisa mendapatkan atau mengetahuinya. Tapi memang aku tak pernah ingin memiliki apa pun itu untuk terhubung denganmu selain bertemu langsung di kampus.

Dan hingga tulisan ini kumuat, tak pernah sekalipun aku menceritakan tentang kamu pada teman-teman dikampus sekalipun teman terdekatku. Biarkan saja, biar tulisan ini saja yang bercerita tanpa ingin kusebutkan namanya...