Rabu, 11 Februari 2015

Bersahabat Dengan Logika "Part 1"


Tiga puluh menit sudah aku duduk di Halte Bus ini, tapi angkutan umum yang kutunggu tak kunjung muncul. Tak jarang aku dibuat dongkol dengan kondisi seperti ini setiap kali aku akan pulang kuliah. Sudah beberapa tahun belakangan ini, angkutan umum kulihat makin sedikit saja, dikalahkan oleh kendaraan-kendaraan pribadi berplat dalam maupun luar kota Samarinda. Kulirik arloji sekali lagi, waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat 38 menit. Langit sudah semakin gelap dan hanya menyisakan sedikit semburat jingga diufuk barat. Perlahan gerimis turun, dan aku jadi makin gelisah. 

Jika malam ini hujan maka aku akan semakin sulit mendapatkan angkutan umum menuju kostku. Kekhawatiran lain muncul, mengingat jika hujan lebat yang mengguyur kota Samarinda turun lebih dari satu jam saja, maka akan terjadi banjir dibanyak titik disetiap bagian Kota, bahkan pusat Kota pun tak luput dari genangannya. Seiring detik demi detik jarum jam yang terus berdetik, aku makin tak sabar menunggu angkutan umum yang lewat untuk membawaku kembali pulang ke kost. 

Rasa dingin yang mulai muncul, membuatku kembali merapatkan jaket Jeans kusam yang biasa kupakai. Kuputuskan untuk duduk dibangku halte sambil tetap mengamati jika ada angkutan umum yang lewat. Tak lama kemudian ponselku bergetar, kulihat layar ponsel ada panggilan masuk, tertera nama Arfan disitu, lalu segera kujawab.

"Ya hallo, kenapa Ar?" Tanyaku.

"Kamu lagi dimana Ra? Bbm ku ga dibaca?" Arfan balik bertanya padaku.

"Masih nunggu angkot nih, di tempat biasa, sorry aku nggak tau ada Bbm masuk, soalnya HP ku masih silent" Ujarku menjelaskan.

"Oh gitu, ya udah hati-hati dijalan, nanti kalau sudah sampai kost kabarin ya?" Kata Arfan.

"Harus ya aku selalu laporan sama kamu kemana-mana?" Balasku sewot yang sudah terlanjur bad mood.

"Iya dong, aku mesti tau kamu disana gimana Ra, kan kita nggak selalu bisa bareng tiap hari. Setidaknya aku tau gimana keadaan kamu" Jawab Arfan tenang.

"Ya udah, kenapa nggak sekalian aja kamu kirimin aku Bodyguard buat ngawal aku kemana-kemana" Jawabku makin sewot.

"Ya enggak segitunya juga kali Ra, kamu kok sewot sih?" Ujar Arfan yang terdengar kebingungan dengan sikapku yang tiba-tiba emosi.

"Habisnya kamu tuh bikin kesel, aku tuh juga disini punya kesibukan kali, nggak penting banget setiap waktu ngabarin kamu, Bbm nggak dibaca aja udah langsung ditelponin, Bbm nggak sempet bales aja udah langsung protes" Jawabku makin kesal.

"Eh kok jadi marah? Aku cuma khawatir sama kamu. Kamu kenapa sih Ra?" Tanya Arfan.

"Kamu tuh yang kenapa, udah berapa kali aku bilang, nggak usah khawatir berlebihan gitu kenapa sih? aku bukan anak kecil kali, yang kemana-mana harus dimonitor terus. Aku bisa ngelakuin semuanya sendiri tanpa kamu komentari terus, posesif tau nggak kamu tuh, aku nggak suka!" Jawabku makin sengit.

"Ra, aku nggak bermaksud posesif, aku gini tuh karena aku sayang sama kamu, kamu tau itu kan?" Ujar Arfan membela diri.

"Sayang? Udah Basi alesan kamu! Asal kamu tahu, yang namanya sayang juga pake logika" Jawabku ketus, lalu aku menutup telepon.

Beberapa detik kemudian ponselku kembali bergetar, dilayar kembali tertera nama Arfan, dengan perasaan yang masih dongkol ku reject berkali-kali panggilan dari Arfan. Aku kembali memperhatikan kondisi jalan, di kejauhan tampak angkutan umum yang kutunggu berjalan pelan. Aku mencoba menghentikan, namun sang sopir tak menepi, setelah dekat barulan aku tahu alasannya kenapa sopir tak berhenti. Penumpang dalam angkutan terlihat penuh dan sudah sesak. 

Akupun kembali kebangku, sesaat aku baru menyadari ternyata di halte ini aku tak lagi sendiri. Ada seorang pemuda lain yang juga tengah menunggu. Ia tengah asik dengan ponselnya. Berbeda denganku yang dengan sigap memperhatikan lalu lintas, pemuda ini tampak santai saja duduk dibangkunya, sepertinya ia tak terburu-buru. Lepas dari memperhatikan pemuda itu sekilas, aku merasa udara kencang berhembus, tetes-tetes hujan yang tadinya kecil mulai membesar, langit sudah sepenuhnya gelap. Aku makin gelisah, sebab biasanya jika hujan lebat dan banjir, gang sempit tanpa parit menuju kost ku juga pasti tergenang cukup dalam.

Beberapa menit kemudian hujan makin deras mengguyur kota Samarinda, aku yang tadinya berdiri ditepi halte terpaksa mundur 3 langkah demi menghindari cipratan air hujan yang membasahi lantai halte. Sekali lagi aku merapatkan jaketku untuk mengurangi rasa dingin yang mulai menjalar. Pemuda yang asik dengan ponselnya tadi kini menatap kearahku,sambil tersenyum sekilas dia mempersilahkan aku duduk.

"Duduk saja dulu mbak, dari pada berdiri. Ini kan masih banyak bangku kosong" Ujarnya padaku.

"Iya terima kasih" Jawabku sambil duduk di bangku disudut kanan halte.

"Kok jauhan mbak? Tenang saya nggak gigit kok" Jawabnya seraya tersenyum.

"Iya nggak apa-apa, dingin soalnya jadi merapat ketembok biar nggak dingin-dingin banget" Jawabku beralasan.

"Gitu ya" Lalu pemuda itu beranjak dari bangkunya kemudian berjalan kesisi halte sebelah kiri lalu meraba tembok dengan tangannya. "Wah iya bener, temboknya hangat mbak" Ujar pemuda itu lagi, lalu ia duduk sambil bersandar pada sisi tembok halte bagian kiri.

Tak lama kemudian hujan mulai reda, hanya gerimis yang tersisa, aku kembali melirik arloji di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit. Begitu aku ingin beranjak dari tempat dudukku, tiba-tiba pemuda tadi melompat dari bangkunya lalu menghentikan sebuah angkutan umum yang tengah lewat. Aku pun bergegas pula ikut menghampiri angkutan tersebut. Pemuda itu mempersilahkan aku naik terlebih dahulu. Aku pikir pemuda tadi mungkin juga akan naik angkutan yang sama denganku, tapi ternyata setelah aku duduk dalam angkutan, pemuda itu malah dengan santainya kembali ke halte lalu duduk di bangku yang tadi dia tempati. Aku hanya sempat melihat ia melambaikan tangannya saja, sebelum akhirnya angkutan umum membawaku semakin menjauhi halte.

* * *

Sekitar 20 menit kemudian aku turun dari angkutan umum tak jauh dari Gang kecil meuju kost ku. Jalan sudah digenangi air sebatas pergelangan kakiku. Aku pasrah saja akhirnya melepas sepatuku lalu dengan kaki telanjang menghampiri warung kecil disamping Gang. Hujan sudah reda dan menyisakan genangan air yang makin meninggi. Dengan sisa uang yang kumiliki diawal bulan ini aku membeli beberapa butir telur ayam dan 4 bungkus mie instant serta sekaleng kecil ikan sarden dengan harga paling murah, ditambah sebungkus kecil abon sapi sebagai cadangan lauk. Akhir-akhir ini hujan turun lebih intens, terkadang dimalam hari ketika akan membeli beberapa makanan keluar hujan turun. Dan mau tak mau aku makan malam dengan yang ada dikostku saja. 

Setelah selesai membeli bahan makanan aku berjalan perlahan menerobos banjir yang dalamnya sudah hampir selutut didalam Gang sempit menuju kostku. Setiba dikost aku meletakkan belanjaanku diatas meja kecil, dimana setumpuk buku-buku kuliah juga kuletakkan. Tak banyak tempat kosong untuk meletakkan barang dikamar kost kecil dengan harga sewa empat ratus ribu rupiah perbulan. Lalu aku kekamar mandi mencuci kaki kemudian kembali kekamar dan merebahkan diri sejenak ditempat tidur.

Lima menit kemudian aku menyimpan belanjaanku kedalam wadah penyimpanan yang kumiliki. sekaligus mengambil segelas beras dan memasukkannya kedalam mangkok plastik untuk kucuci didapur. Dapur yang kumaksud bukanlah dapur sebagaimana biasanya. Hanya ada sebuah tempat pencucian piring dan meja rendah tempat dispenser yang bahkan sudah rusak pemanasnya. Tak ada kompor apalagi perlengkapan memasak layaknya sebuah dapur. Semua aktivitas memasak baik itu memasak nasi maupun memanaskan makanan kaleng atau memasak makanan instant kulakukan dikamar, dengan membiarkan jendela kamar atau pintu tetap terbuka sedikit. setelah memasukkan beras kedalam Rice Cooker miniku, akupun beranjak membersihkan diri kekamar mandi. Meskipun cuaca dingin tetap kupaksakan mandi, agar aku merasa lebih segar.

Setengah jam kemudian aku siap menyantap makan malamku yang sederhana. Ketika makan malamku hampir tandas, ponselku yang tergeletak di tempat tidur kembali berdering, sesaat aku melirik ada panggilan dari Ayah. Aku menghentikan sejenak kegiatan makan malamku, lalu menjawab panggilan itu. 5 menit kemudian setelah sambungan diakhiri aku melanjutkan melahap sisa makan malamku. Ayah memberitahukan aku jika akhir minggu ini ingin pulang kerumah, adik ku bisa menjemput setelah aku usai bekerja, dan aku pun menyetujuinya. Lagi pula memang sudah waktunya aku menyempatkan pulang kerumah orang tuaku di desa yang hanya bisa kulakukan sebulan sekali disela-sela kesibukanku kuliah sambil bekerja.

Kemudian aku membuka laptopku dan mempelajari beberapa jurnal yang akan kujadikan referensi untuk mengajukan judul skripsi. Sudah 5 judulku ditolak oleh dosen pembimbing, hal ini tentu saja membuat aku gelisah. Selain karena waktu dan perhatianku tersita pula oleh pekerjaan, aku juga harus tetap fokus pada beberapa mata kuliah akhir yang tengah kutempuh. Ditambah pula Arfan yang selalu menuntut perhatian dan sering kali membuatku kewalahan menghadapinya.

Saat aku asyik mempelajari beberapa jurnal, ponselku berbunyi, menandakan ada pesan masuk lewat Bbm. Aku menyempatkan diri membaca isi pesannya yang ternyata dari Arfan.

Arfan : Lagi sibuk?
Me    : Baca Jurnal
Arfan : Aku mau telpon

Belum sempat aku membalas pesan, dilayar ponsel tertera nama Arfan. Dengan perasaan enggan akhirnya aku menjawab panggilan itu.

"Ra, udah sampe kost? udah makan?" Tanya Arfan

"Udah" Jawabku singkat

"Oh oke deh" Ujar Arfan lagi

"Udah gitu aja?" Tanyaku

"Hemmm.. ya" Jawabnya

"Ya udah" Lalu telepon kututup dan kulempar pelan kekasur, kemudian melanjutkan kegiatanku membaca jurnal.

Malam itu waktu terasa cepat berlalu, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat 5 menit. Akupun mematikan laptop dan bersandar pada bantal dipembaringanku, kuambil sebuah buku berjudul "The Uncensored Of Bung Karno" kubuka halaman bagian tengah dimana ada pembatas buku yang terselip. Aku kembali melanjutkan membaca biografi tokoh proklamator Negara ini, setelah beberapa hari tak sempat kubaca. Kekagumanku pada sosok kharismatik beliau membuatku semakin ingin tahu sejarah hidup orang nomor satu pertama di Indonesia ini. Setelah melewatkan lebih dari 7 halaman, aku pun mulai diserang kantuk yang cukup kuat, hingga akhirnya aku terlelap sendiri dikesunyian malam. 
 
*To Be Continue*

Rabu, 26 November 2014

Kamu Yang Aku Tak Tahu Namanya



 Bundaran Fekon

Hai kamu yang disana... apa kabarmu hari ini? ^_^
Jelang akhir tahun ini aku ingin sedikit bercerita tentang kamu. Ini sudah memasuki tahun ke 3 ku menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi di Universitas paling besar di Kota ini. Selama 5 semester ini nyaris setiap hari kita bertemu. Sudah sering kali kita ngobrol dan berdiskusi. Kita akrab??? bisa dikatakan demikian, karena disetiap kesempatan bertatap muka kamu tak pernah sekalipun absen memberiku senyuman hangat meski pun terkadang tanpa sapaan. Sikapmu yang agak cuek namun tidak kaku dan tidak juga sok akrab apalagi modus membuatku respect sama kamu. Kita seangkatan? Oh tentu saja tidak, kamu 1 tahun lebih dulu menginjakkan kaki dan menimba ilmu di kampus ini. Jadilah aku merasa berkewajiban memanggilmu dengan panggilan "Kakak" (Senioritas banget yeee hahaha... ^o^) dan kamu juga mungkin memiliki rasa senioritas yang cukup tinggi hingga memanggilku "Adek".

Aku tau kamu sibuk dengan pekerjaanmu, kamu juga harus sibuk dengan tugas-tugas kuliahmu. Tidak jarang kamu juga harus mengulang atau menunda mengambil beberapa mata kuliah demi menyesuaikan dengan jadwal kerjamu. Dan saat itu pula di beberapa semester kita kembali memasuki kelas dan kuliah yang sama. Atau jika SKS ku cukup untuk mengambil mata kuliah di semester atas, maka tak jarang kita kembali bertemu dikelas yang sama pula. Namun di tengah kesibukanmu yang tengah asik membahas tugas-tugas dari dosen, hari ini aku berpapasan denganmu. Dan seperti biasa, kamu selalu menyempatkan tersenyum hangat padaku sambil menyapa.

"Kuliah apa dek?" Tanyamu sambil tersenyum dan menyentuh lembut kepalaku
"MSDM 2 kak" Jawabku balas tersenyum sambil terus berlalu menuju ruang kelasku

Apakah hatiku berdebar-debar?? Tidak... mungkin karena sudah terbiasa seperti itu. Apakah aku senang? Tentu saja. Setidaknya kamu gak pernah modus seperti temen-temen lainnya yang tiba-tiba baik tapi ujung-ujungnya nebeng tugas. 

Aku masih ingat di semester pertamaku kuliah di kampus ini, 3 bulan pertama aku benar-benar tak menyadari kehadiran kamu di kelas Pengantar Bisnis. Hingga pada saat pergantian dosen setelah UTS aku baru ngeh ada mahluk cowok yang akhirnya aku panggil Kakak tiba-tiba ikut nimbrung saat aku dan teman-teman sekelasku tengah asik ngobrol disebuah tempat yang biasa kami sebut 'Bundaran Fekon'. dan malam itu kali pertama kamu memanggilku Adek sambil mengusap lembut kepalaku. Sejak saat itu kita mulai terbiasa saling senyum dan saling sapa kapan saja kita bertemu.

5 hari yang lalu ketika kita kembali bertemu dikelas yang sama, saat kelas telah berakhir kamu menepuk bahuku lalu berkata.

"Presentasi mu tadi bagus dek, walaupun hanya 1 slide tapi 5 poin yang tertulis di slide itu kamu jelaskan semua dengan detail, gk seperti yang lainnya yg cuma baca slide tapi tidak menjelaskan detailnya. Itu baru presentasi power point, yang lain ya power word kali ya" 

Dan aku pun menjawab

"Ya namanya juga power point kak, yang di tampilkan ya poin-poinnya saja lalu detailnya di jelaskan. Bukannya penjelasan detailnya juga di tulis di power point lalu di baca kan?" Ujarku

"He'eh bener gitu" Katamu lagi sambil mengusap lembut kepalaku

Dan kemudian aku pamit pulang lebih dulu. Walaupun sebenarnya aku masih ingin ngobrol lebih lama denganmu. Tapi waktu yang kian beranjak malam membuatku mengurungkan keinginanku.  

Ada saat dimana kamu pernah bercerita sedikit tentang pekerjaanmu, sedikit tentang wanitamu, dan sedikit tentang dosen-dosenmu juga sedikit cerita tentang kondisimu. Kita sering ngobrol ringan dengan teman-teman lainnya. Namun hingga hari ini, hingga kutuliskan cerita ini, tak pernah sekalipun aku bertanya langsung siapa namamu kak. Bukan karena aku takut, tapi memang aku tak ingin menanyakan itu. Aku percaya suatu hari nanti aku akan mengetahui dengan sendirinya, siapa nama dibalik sosok yang amat akrab dan hangat ini. Tak ada nomor telepon, pin BBM, Facebook, twitter atau kontak lainnya yang kupunya untuk menghubungimu diluar kampus. Bukan karena aku tak bisa mendapatkan atau mengetahuinya. Tapi memang aku tak pernah ingin memiliki apa pun itu untuk terhubung denganmu selain bertemu langsung di kampus.

Dan hingga tulisan ini kumuat, tak pernah sekalipun aku menceritakan tentang kamu pada teman-teman dikampus sekalipun teman terdekatku. Biarkan saja, biar tulisan ini saja yang bercerita tanpa ingin kusebutkan namanya...

Kamis, 03 Juli 2014

High School Story Part 1

Masa Orientasi Siswa Terakhir

Ilustrasi 



Kala itu aku baru saja kembali masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas selama 2 minggu dikampung halamanku. Tak banyak kegiatan yang dapat aku lakukan. Kini aku sudah duduk dibangku kelas XII IPS 1. Sebuah kelas yang bisa dibilang kelas unggulannya anak-anak IPS. Tapi bagiku kelas ini terlalu biasa. 
Seperti biasa, aku bangun setiap pagi pukul 05.15 Wita., membantu pekerjaan rumah yang bisa kukerjakan sebelum aku berangkat sekolah. Setelah pekerjaanku selesai, aku mandi lalu bersiap-siap kesekolah. Jika aku ingin sarapan, aku ikut sarapan bersama saudara-saudara lain, tapi tak jarang aku memilih langsung berangkat kesekolah. 

Aku berangkat sekolah lebih sering berjalan kaki, karena memang jarak menuju kesekolah tak terlalu jauh, selain itu aku juga menyukai suasana pagi disini. Pukul 06.45 aku pasti sudah melangkah santai menyusuri jalan menuju sekolah, karena di jam segitu matahari pagi masih tak terlalu panas. Tak jarang pula aku diantar saudaraku, terlebih jika cuaca tak bersahabat alias hujan deras, mau tak mau aku datang kesekolah lebih lambat dari biasanya dengan diantarkan oleh saudaraku.
***
Hari ini aku sedang berjalan sendiri dengan santai menuju sekolah. Aku tahu, hari ini tak akan ada jam pelajaran. Karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Tidak banyak siswa yang datang, hanya beberapa pengurus OSIS saja yang akan mengadakan rapat persiapan Masa Orientasi Siswa, disingkat MOS atau bahasa jadulnya OSPEK. Aku adalah salah satu pengurus OSIS pada seksi bidang kewirausahaan yang kerjanya ngurusin koperasi OSIS, bukan koperasi sekolah ya, itu beda lagi. Namun dalam ritual tahunan kali ini, aku bergabung dengan tim Seksi Acara dan menjadi seksi pendamping siswa yang telah dibagi kedalah group. 

Sesampai disekolah aku berjalan dikoridor menuju perpustakaan sekolah. Kuhampiri mading yang masih menyisakan artikel-artikel lusuh setelah 2 minggu tak terurus. Suasana sekolah amat sepi, baru beberapa siswa yang terlihat datang. Yah mereka teman-teman pengurus OSIS dari kelas XI dan XII. 
Kemudian aku berjalan menuju koperasi OSIS, yang dalam keadaan darurat terkadang ruangan kecil ini kami jadikan tempat untuk rapat pengurus inti OSIS. 
Setelah pintu koperasi kubuka, kudapati meja dan kursi yang sedikit berdebu, tanaman didepan koperasi pun mulai ditumbuhi rumput liar. Tampaknya Mang Udin harus bekerja sedikit lebih keras merapikan taman kecil yang ditata disetiap depan koridor kelas. Dalam diam aku membersihkan ruangan koperasi perlahan-lahan. Setelah selesai aku duduk termenung di sudut ruangan. 

Tiba-tiba aku teringat kata-kata Rian 4 hari yang lalu. Didesaku, sebelum aku kembali kesini aku bertemu Rian. Dia mantan pacarku saat aku masih kelas 3 SMP. Dan hubungan kami berakhir saat aku akan berangkat kesini untuk melanjutkan sekolah. Aku yang meminta perpisahan itu, karena aku merasa tak akan bisa menjalani hubungan LDR. 
4 hari yang lalu, Rian datang kerumahku. Kami ngobrol banyak, mulai dari sekolahku dan tentang kehidupan dia sekarang, lebih dari itu Rian memintaku untuk kembali padanya.
Setelah 2 tahun, aku melihat Rian masih seperti sosok yang sama seperti saat kami masih bersama. Dia masih menjadi pelatih Paskibraka di sekolah. Dan dia masih tetap seorang lelaki tampan yang menatapku dengan sorot mata lembut dan hangat. Ah jika mengingat itu, hingga kini aku merasa Rian lah lelaki terbaik yang pernah kusayangi.

Aku sempat terkejut ketika Rian menyatakan keinginannya untuk kembali menjalani kebersamaan denganku. Padahal dulu aku sempat membuat dia menangis kala aku memutuskan berpisah. Meski begitu Rian bukanlah sosok lelaki pendendam. Pada saat libur semester pertamaku dibangku SMA, Rian kembali menemuiku. Dia menawarkan hubungan pertemanan yang baik, tanpa harus dibayangi masa lalu hubungan kami. Dan aku cukup merasa nyaman dengan persahabatan yang dia tawarkan. Banyak hal yang biasa kami bagi setiap aku pulang saat liburan sekolah. Kecuali satu hal, cinta. Ya soal yang satu itu kami tak pernah saling membagi kisah.
Saat Rian memintaku kembali dengannya aku tak tahu harus menjawab apa. 
Bagiku itu terlalu tiba-tiba. Dan aku menangkap perasaan tergesa-gesa pada Rian. Seolah-olah dia ingin memastikan satu hal, entah itu apa. Dan aku tak memiliki keberanian untuk menanyakannya. 
Awalnya Rian memberiku toleransi 3 hari untukku mempertimbangkan keputusanku. Tapi pada hari ketiga pun aku masih tak bisa memastikan perasaanku padanya. Aku merasa sudah terlalu nyaman pada kondisi sekarang Friend Zone, namun tampaknya Rian menginginkan lebih. Ingin kutolak tapi aku juga tak bisa bohong, jika ada rasa nyaman yang lebih saat bersamanya.
Setelah berkompromi, akhirnya Rian mengalah. Aku mengajukan sebuah permintaan. 25 hari lagi aku akan kembali, dan saat itu aku akan memberikan jawaban pasti padanya. Jika aku pikirkan sekarang, waktu segitu rasanya cukup sadis untuk menggantungkan sebuah harapan. Apalagi harapan itu tak ada kepastian sama sekali. Tapi sekali lagi kukatakan, Rian mengalah. Dia mengatakan akan menunggu hingga waktu yang kujanjikan. Dan sekarang, jadilah aku galau, aku masih tak tahu seperti apa perasaanku padanya. 
*** Selama menjadi panitian MOS aku merasa kurang fokus. Jabatanku sebagai seksi anggota pendamping siswa membuatku benar-benar harus fokus pada siswa baru yang kudampingi. Bukan saja harus tegas, tapi aku juga harus memperhatikan anggotaku. Dihari pertama aku sempat mendengar salah satu siswa baru nyeletuk dikantin. Dia mengatakan aku adalah salah satu panitia MOS terjutek. Karena terlalu cuek dan pelit senyum. Dan hal itu juga di aminkan oleh teman-temannya. Mendengar itu sebenarnya aku ingin sekali marah dan memaki-maki siswa baru itu. Tapi kuputuskan menahan diri, karena ini baru hari pertama. Awalnya aku tak berminat bermain-main (baca : Ngerjain & Nge-bully) dengan siswa-siswa baru.Tapi sejak aku dibilang jutek & pelit senyum, aku merasa tertantang.

Berhubung setiap MOS selalu ada ritual jadi artis 3 hari bagi panitia (baca : ngasih tanda tangan ke siswa baru). Ini merupakan ritual wajib turun-temurun setiap tahunnya. Tujuannya biar siswa baru bisa kenal lebih dekat sama kakak kelas. Karena tiap panitia yang dimintai tanda tangan, rata-rata ngajuin syarat dulu sama siswa baru. Mulai dari nyanyi-nyanyi gak jelas sampe joget potong bebek angsa, yang kalau menurutku lebih mirip angsa kesurupan gara-gara mabok kebanyakan minum kecap asin punya ibu kantin. 


Mungkin memang dasarnya aku yang kurang tertarik dengan kekonyolan macam ini, jadi aku tak aktif bermain-main dengan siswa baru. Dan yang mendapatkan tanda tanganku masih sedikit. Disetiap break kegiatan aku lebih suka berdiam diri didalam kelas lalu memanggil ketua kelompok siswa yang kudampingi. Memastikan anggotaku hadir semua dan tak ketinggalan materi dari tutor-tutor yang mengisi sesi “All About High School”.

Saat aku tengah menyendiri didalam kelas, aku melihat siswa yang bilang aku jutek, tadi pagi dikantin. Sama seperti siswa baru lainnya, siswa ini pun memakai aksesoris yang berlebihan dan heboh yang diwajibkan oleh panitia saat MOS berlangsung, persis seperti aku dulu saat berstatus siswa baru disekolah ini. Lalu spontan aku memanggil siswa itu.

“Hei.. Kamu, sini!!!” panggilku pada siswa itu, lalu siswa itu menghampiriku

“Iya kak, ada apa?” Ujarnya dengan sikap canggung

“Kamu kelompok mana?” Tanyaku

“Kelompok Ungu Band kak” Jawabnya masih dengan sikap canggung sambil menunduk memandang lantai.

“Mana buku catatan tanda tangan panitia punya kamu?” Tanyaku lagi

“Ada kak” Jawabnya dengan suara bergetar

“Sini, saya mau lihat” Ujarku dengan suara agak tinggi
Kemudian siswa baru didepanku mengeluarkan sebuah buku tulis dari tas selempangnya. Lalu menyerahkan padaku tanpa sepatah kata pun. Aku membuka buku catatan itu, ada sekitar 14 tanda tangan panitia disitu. Dalam hati aku menilai gigih juga siswa ini, baru hari pertama sudah dapat lebih dari 10 tanda tangan panitia. Namun aku tak melihat tanda tangan ketua OSIS selaku ketua umum acara MOS ini. Dan juga tak ada tanda tanganku disitu.

“Kok gak ada tanda tangan saya disini?” Tanyaku sambil menatap tajam kepada siswa baru. Tentu saja siswa baru ini terkejut. Lalu dia memaksakan bibirnya tersenyum

“Eh iya, anu kak saya belum sempat. Kakak mau kasih tanda tangannya gak?” Ujar siswa baru ini dengan tatapan kecut.

“Enggak” Jawabku ketus

“Yahh, kenapa kak, tanda tangan kakak wajib saya dapetin, soalnya kakak kan anggota seksi pendamping” Jawabnya masih dengan sikap canggung.

“Sana minta tanda tangan ketua OSIS dulu, baru saya mau kasih kamu tanda tangan saya” Jawabku tegas.

“Ah iya kak, siap” Jawabnya sambil tersenyum sumringah

“Eiittss.. Tapi ntar dulu, aku mau kamu push up dulu 5 kali sekarang” Ujarku

“Hah... Kok push up kak?? Saya kan gk bikin salah sama kakak?” Tanyanya dengan ekspresi bingung

“Lalu?? Siapa yang salah??? saya?? Inget pasal 1? Panitia tidak pernah bersalah, pasal 2 jika panitia bersalah kembali ke pasal 1” Jawabku tersenyum penuh kemenangan
 
”Ayo push up sekarang, 5 kali, ga usah manja!!!” Perintahku setengah membentak

Akhirnya siswa baru ini melakukan apa yang aku perintahkan. Setelah selesai push up siswa baru ini terlihat jengkel padaku. Tapi aku justru merasa senang melihat ekspresinya yang nyebelin itu.
 
”Nama kamu siapa?” Tanyaku

“Aldy kak” Jawabnya sambil tertunduk

“Oke Aldy, karena kamu patuh sama perintah saya, saya kasih tau kamu kenapa kamu saya suruh push up” Ujarku
 Si Aldy cuma diam, kemudian aku melanjutkan kata-kataku

“Pertama, saya rasa kamu perlu olahraga sedikit, soalnya tadi pagi saya lihat kamu dianterinnya naik mobil ya sampe halaman depan. Terus yang ke 2, saya tadi pagi denger kamu provokasi teman-teman kamu kan?? Trus bilang kalau saya panitia terjutek? Yah gak apa-apa, tadinya saya mau bersikap baik, tapi berhubung sudah ada yang bilang saya jutek, yaaaa jangan harap saya mau baik-baik sama kamu selama MOS. Dan terakhir, saya cuma mau mengingatkan, kalau buat dapet tanda tangan ketua OSIS itu gak gampang. Yang ngajuin syarat kayak saya mungkin sedikit, tapi yang lebih keras dari saya, kamu akan tau nanti. Oke Aldy?? Selamat berjuang ya dek” Ujarku sambil tersenyum puas kemudian pergi berlalu.
Sebelum benar-benar jauh berjalan aku melihat Aldy sekali lagi, tampak jelas kekesalan terlihat di wajahnya, tapi aku tak perduli.

“Permainan baru dimulai dek” Gumamku dalam hati sambil tersenyum sinis.
***
Hari ini adalah hari ketiga MOS yah bisa dibilang hari ini adalah hari menjelang kemerdekaan para peserta MOS, dan kesenangan terakhir bagi panitia MOS. Karena setelah hari ini pasal 1 dan pasal 2 sudah tidak berlaku lagi bagi kami. Kembali keaktifitas semula, belajar dan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi semester pertama ditahun ke 3 ini.

Kulirik jam dinding dikelas, waktu menunjukkan pukul 2 siang. 1 jam lagi tradisi turun temurun ini akan berakhir. Kuraih buku catatan agenda MOS milikku dan melihat susunan acara. Acara terakhir hari ini adalah halal bihalal antara panitia dan peserta MOS setelah upacara penutupan MOS. Kemudian aku berkeliling kelas dan menyapa teman sasama panitia atau bahkan ngobrol bareng. Dari beberapa panitia aku melihat ada teman panitia yang terlihat akrab sekali dengan siswa baru yang didampinginya. Setelah berkeliling sebentar, aku pun memutuskan menuju ruang koperasi OSIS. 
Belum sampai aku menuju koperasi langkahku tertahan oleh suara sedikit ramain dibelakangku. Ada yang memanggil namaku, setelah aku membalikkan badan aku mendapati sekitar 10 orang siswa baru menghampiriku. Awalnya aku sempat terkejut, tapi aku juga tak bisa menghindar. Aku mengenal salah satu dari mereka, namanya Anggi, dia salah satu peserta MOS yang aku dampingi. Dan setelah mereka semua mengelilingiku untuk memintaku memeriksa catatan mereka dan memberikan paraf. Karena sebelum upacara penutupan dimulai, mereka harus mengumpulkan catatan-catatan mereka. Aku baru sadar, ternyata mereka semua adalah group yang harus aku dampingi selama MOS berlangsung. Aku tak hapal wajah-wajah mereka, hanya Anggi si cewek imut yang selalu tersenyum ramah ini yang aku ingat sekali. Meskipun aku tak pernah memanjakan dan cenderung cuek pada group yang kedampingi, tapi tampaknya mereka tak pernah lupa padaku. 
Aku cuek pada mereka bukan karena tak peduli, tapi aku merasa mereka harus mandiri dan bisa menyelesaikan masalah di group mereka, aku hanya sesekali memberi petunjuk dan mengarahkan mereka. Tidak seperti beberapa group lain yang aku nilai agak manja dan berlebihan pada pendampingnya. Susah sedikit lapor pendamping, bahkan ada juga yang hanya urusan sepatu sampai pendamping yang turun tangan. Sejak hari pertama aku menekankan pada groupku jika aku tak suka dengan anggota yang manja dan jangan harap aku mau memanjakan mereka, setiap masalah harus mereka pecahkan sendiri bersama-sama, tidak boleh ada diskriminasi dalam berpendapat, saling respect, saling bantu dan saling menyemangati. Jika perlu susah senang sama-sama meskipun hanya untuk 3 hari ini.

***
Bell terakhir berbunyi siswa-siswa yang masih berkerumunan langsung berlarian menuju kelas masing-masing. Termasuk groupku, catatan-catatan yang belum selesain kuperiksa masih tertumpuk ditanganku. Lalu aku bergegas menyusul mereka masuk kelas dan memeriksa catatan yang belum kuperiksa lalu mengembalikannya pada mereka.
Setelah panitia mengumumkan acara terakhir MOS hari ini, peserta pun dipersilahkan keluar kelas dan mengikuti upacara penutupan MOS. Upacara berlangsung lancar dengan aku sebagai MC. Upacara yang dipimpin oleh Bapak Ridwan selaku pembina OSIS diakhiri dengan tepuk tangan yang sangat meriah oleh semua peserta upacara setelah beliau mengucapkan kata “Welcome To SMA Negeri 1 Muara Jawa”

Ketika Pak Ridwan meninggalkan lapangan upacara, semua barisan kembali kami ambil alih untuk melakukan halal bihalal pada siswa-siswi baru. Aksesoris nyeleneh mereka sudah dilepaskan dan kini kami saling bersalaman dan saling mengucap maaf karena selama 3 hari  ini banyak hal-hal luar biasa yang terjadi terlepas dari itu banyak pula ucapan panitia yang mungkin menyinggung dan menyakiti hati peserta MOS. Dan moment bersalam-salaman inilah moment yang mengharukan. Karena perserta MOS akan memberikan kenang-kenangan pada panitia MOS. 

Hal yang tak pernah terpikirkan olehku adalah, aku tak menyangka ternyata ada yang memberiku kenang-kenangan. Anggi memberiku gantungan kunci boneka sapi yang lucu, dan nyaris semua anggota groupku memberiku kenang-kenangan. Ada yang memberiku coklat, frame foto lucu, pajangan, kaos kaki bergambar Hello Kitty (padahal aku sukanya doraemon), pin-pin lucu, diary, hingga jilbab. Dan satu lagi ada bros dengan aksen manik dan mutiara dari Aldy berbentuk kupu-kupu. Tak lupa juga aku meminta maaf pada mereka semua, jika selama 3 hari ini aku telah banyak menyiksa mereka secara verbal. Dan dengan senyum tulus mereka mengatakan tak mempermasalahkan hal itu. 
Dalam perjalanan pulang aku merasakan satu hal lagi yang luar biasa, siswa-siswa baru ini menyapaku ramah sekali dan berpamit pulang kerumah masing-masing.

Setelah rapat panitia MOS berakhir aku dan Dina sahabatku memutuskan pulang bersama dengan berjalan kaki, menikmati hangatnya mentari sore. Namun di depan gerbang sekolah, aku melihat siswa baru yang masih berseragam SMP bertopi karton bentuk kerucut tengah duduk manis disebuah motor sambil memainkan handphone-nya., itu Aldy. Suasana sekolah sudah mulai sepi, lalu aku dan Dina menghampiri Aldy.

“Aldy, kok belum pulang, nungguin siapa?” Tanya ku 
Aldi kemudian menghentikan kesibukannya bermain handphone dan melirik kami.

“Gak nungguin siapa-siapa, lagi iseng aja hehehe..” Jawabnya santai sambil cengengesan

“Mending cepet pulang deh, udah sepi nih” Ujarku mengingatkan

“Iya kak” Jawabnya sambil menstarter motornya
      
“Kakak mau sekalian aku anter pulang?” Tanya Aldy pada kami

“Anter pulang?? Ya gak muat kali Aldy, kami kan berdua” Ujarku

“Ah iya kamu ikut dia aja Ra, aku bisa sama Febri ntar, tadi sih dia ngajakin pulang bareng” Jawab Dina

“Yakin???” Tanyaku pada Dina sekali lagi

“Iya, duluan aja” Sahut Dina
Akhirnya aku pulang diantar Aldy, sebenarnya kurang enak karena jarak kerumah tidak terlalu jauh.

“Kak, hadiah yang dari Aldy tadi besok di pake yah” Ujar Aldy sambil mengurangi laju motornya

“Emang tadi kamu kasih kakak apaan? Kakak lupa” Tanyaku

“Itu yang bros kupu-kupu” Jawabnya

“Oh itu, iya besok kakak pake” Ujarku

“Bener yah? Besok aku cek kekelas kakak, kalau kakak lupa kakak kudu trakatir Aldy di kantin hehehe” Ujar Aldy seenaknya

“Walah... Bocah, belagu amat, baru juga kelar MOS” Jawabku menggerutu

“Hahahaha... Dih sensian, tapi beneran di pake ya kak?” Ujar Aldy lagi

“Iyeee, tapi gak pake ngancem juga kali” Jawabku sewot

“Hehehe.. Maaf kak, takut kakak lupa aja, sekalian tuh yang jilbab dari Sani juga kan bagus kak, aku loh yang milihin kemarin malam” Kata Aldy dengan suara yang agak dikencangkan.

“Iya Aldy, nah stop depan situ ya” Ujarku sambil menunjuk rumah bibiku. Aldy pun menghentikan motornya

“Makasih ya udah ngasih tumpangan” Ucapku sambil tersenyum

“Iya kak, Aldy pulang ya” Ujarnya lalu melesat cepat dengan motornya.



*To be continue*

Kamis, 24 April 2014

Untitle

Setelah sekian lama, akhirnya gw lirik lagi halaman ini setelah nyaris 2 tahun gw anggurin. Yah mungkin agak berbeda dengan postingan lainnya. Karena kali ini gw menulis dengan bahasa yg bikin gw ngerasa lebih nyaman.

Entah kenapa gw merasa hari-hari gw sekarang jadi kosong. Mungkin bakal ada yg beranggapan "Halah, paling gara-gara game kesayangan lo udah kiamat makanya lo jadi ngerasa kosong gitu". Tapi menurut gw bukan cuma itu yg ngebuat gw ngerasa kosong. Sejak akhir tahun lalu sebenernya gw udah merasa kosong. Sejauh ini gw cuma berusaha agar tidak terlihat kosong. Gw mencoba menyibukkan diri dgn segala macam cara.

Sepi... yap, bener banget. Gw selalu merasa sepi, gw seperti merasa kehilangan diri gw yg dulu. Gw yg dulu supel dan ramah, sekarang jadi cuek, tertutup dan bahkan bersikap jutek dan masa bodoh. Ada apa dgn hidup gw??? berkali-kali pertanyaan ini datang. Dan sampai sekarang gw belom ketemu jawabannya. Mungkinkah gw kehilangan jati diri gw?? Aasshhh.. shit!!!

Tersandar gw diatas pembaringan, menatap lamat-lamat beberapa gambar yg gw pajang disalah satu dinding kamar. Disana terpampang foto gw dan pacar gw, waktu gw pergi ke Pulau Tidung sama dia 15 Maret 2014 foto ini diambil. Dalam gambar itu gw terlihat bahagia banget. Hemmm... sekarang gw kangen pacar gw?? itu pasti. Tapi sekarang gw lagi sebel sama dia. Udah sejak beberapa hari ini gk komunikasi.


Dalam diam, keinget lagi saat gw ketemu dia kurang lebih sebulan yg lalu, saat gw ngerasa gundah dan menangis dalam dekapannya. Hmmmmm.. I miss that moment. LDR... yah gw ngejalani hubungan LDR sama dia. Jadi gw gk selalu bisa ketemu dia. Sudah nyaris 2 tahun hubungan ini berjalan. Nyaris 2 tahun bukan berarti tanpa hambatan, pertengkaran mungkin adalah hal yg biasa meskipun terkadang aku jenuh dan lelah.

Disaat gw merasa benar-benar lelah, gw lebih merasa nyaman berdiam diri. Tak ingin ditanya dan tak ingin diajak bicara. Itu membuat perasaan gw jadi lebih baik... 

Selasa, 07 Agustus 2012

About My World

Hemmmm... Long time no see ^_^
Udah lama pun aku gk nulis lagi yah, habisnya aku terlalu sibuk sih ya hehehe...
To this day aku mau bercerita sedikit tentang duniaku, dunia yg udah setahun lebih ini aku nikmati. Sehubungan dengan pekerjaanku sebagai operator warnet saat ini, tentunya sudah gk asing lagi dengan yang namanya game online seperti yang pernah kutulis dihalaman sebelumnya. Aku bener-bener merasa enjoy didunia game online ini. Buatku ada hal-hal menyenangkan yang bisa aku dapatkan disana, diluar dunia real ini. Kesenangan ku pada dunia gamers ini sama asiknya ketika aku berburu dan membeli buku-buku bacaan ditoko buku lalu melahap bahan bacaan itu sesukaku. Ketika aku begitu asik dengan petualanganku didunia game ini aku merasa apa yang aku lakukan digame ini terasa begitu nyata. layaknya ketika aku tenggelam dalam cerita buku-buku yang aku baca, tak jarang aku merasa tegang setiap melihat sudut demi sudut game yang aku mainkan. 
Walaupun demikian aku tak lantas melupakan kehidupan real ku lho pemirsa hehehe... ^_^
 
Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya aku ingin menampilkan screenshoot dari game favoritku itu, tapi sebelumnya aku pengen memperkenalkan dulu nih apa nama game onlinenya. Yuupp tanpa basa basi langsung aja deh aku perkenalnya nama game online yang aku maksud adalah "Lineage II Official Indonesia"


Nah itulah salah satu gambar dari game online yang aku sukai sampai sekarang. Dari bermain game ini aku bisa dapat banyak teman, tak lagi terbatas dari satu kota, bahkan boleh dibilang aku punya teman hampir dari seluruh Nusantara. Ya walaupun belum pernah bertemu sih. Tapi itulah yang membuat aku menyukainya. Dan dari sekian game online yang pernah aku coba mainkan, hatiku tertambat pada Lineage II yang menurutku keren dan Legenda abis hehehehe... ^_^
Nah segini dulu ya cerita seputar Lineange II nya, next aku update lagi deh di halaman baru dengan cerita dan screenshoot dari karakter-karakter yang aku mainkan. Tunggu ya di About My World part 2.
Salam Legenda ^_^

Kamis, 24 Mei 2012

Rencana Awal Dimulai

Oke oke oke,  rencana baru dimulai. Udah waktunya aku bangkit, lupain kesedihan kemaren dan mulai jalani hari baru. Rencana awal sih aku mau menjauh dulu dari jelek. Dimulai dari buat pesbuk baru tanpa setahu dia, lalu ganti no HP hohoho... =_= and selanjutnya ntar vakum maen gem onlen dulu kali ya. Aku pengen liat apakah dia menyadari ketidak hadiranku didunia ini. Dia pernah bilang, kalau aku ngilang rasanya ganjil. So' aku mau buktiin itu emang bener-bener sebuah pengakuan apa cuma ngomong doang. 

And well kali ini aku mau menulis kegundahan hatiku kemaren. Kemaren masih sempet sms'an sama jelek, ya isi sms nya sih standar aja, kita ngobrol-ngobrol berbagai macam hal kyak biasanya. Aku denger cerita dia yg katanya lagi kurang sehat. Obrolan sih asik-asik aja sebelumnya, tapi.... ketika jelek bilang "klo aku mau disayang2 aja gimana?" JLEEEBBB rasanya baca isi sms nya itu. Mendadak kepala pusing, penglihatan berkunang-kunang dan aku ambruk seketika dengan kondisi mulut berbusa alis shock, hahahaha... gk segitunya kaleeeee... ^o^
Saat itu aku sempat terdiam, bingung harus membalas apa. Kalau mau jujur sebenarnya aku ingin, tapi rasanya aku gk sanggup ngelakuin itu. Ada perasaan minder + ngerasa gk pantes ngelakuin itu lagi... T_T maaf ya jelek, bukan nya aku egois. Tapi jika aku tetap menuruti keinginanmu, maka aku akan merasa sangat terhina sekali. Bersayang-sayangan & bermesra-mesraan dengan cowok yg udah jelas pacar orang. Meskipun hanya lewat telepon atau sms, tapi tetap saja itu gk pantes. Dan perlu jelek tau satu hal juga, aku melakukan ini demi kebaikan hubunganmu dengannya. Aku juga gk mau di cap sebagai cewek penggoda pacar orang. Jujur aku memang sayang sama jelek, tapi jika aku tetap menuruti keinginanmu, sama aja aku menghina diriku sendiri, dan pasti nantinya aku akan semakin terluka dengan keadaan ini.
Dan juga aku jelas mengerti, jika saja aku ada diposisi pacarmu aku pasti akan sangat marah dan sedih kalau pacarku malah bersayang-sayangan dengan cewek lain. Itu hukum alam jelek, gk ada wanita yg mau kasih sayangnya terbagi. Aku selalu berusaha terlihat wajar, aku gk mau banyak orang tau kesedihanku.
Jika aku pernah bicara sinis & ketus aku minta maaf, bukan nya ingin menyakitimu. Tapi sekedar membuatmu sadar, kondisi yg jelek ciptakan sudah membuat semuanya berubah. Kita gk bisa sebebas kemaren-kemaren lagi. Kalau kemaren-kemaren kita mau sayang-sayangan segimanapun aku gk terbebani, karena jelek belum ada yg memiliki. 
Sekali lagi maaf banget ya jelek ku sayang (Last manggil sayang) aku yakin, jelek udah sangat-sangat dewasa untuk menyikapi hal ini... 

Next time kita pasti ketemu, I'm Promise ^o^
*Chupa Chupa Cups* \('o')>

Rabu, 23 Mei 2012

New Day

Hemmmm... udah lama gk nulis lagi disini. But udah banyak hal yg terjadi selama beberapa bulan ini. Semuanya terasa begitu cepet berjalan, seolah aku berjalan diatas sepatu roda yg meluncur dari satu masalah kemasalah yg lain, gk terkecuali sama si jelek. Sekarang aku dan jelek udah gk sedeket kemaren-kemaren lagi, jelek udah punya pacar lho. Hemmm.. aku kapan nyusul ya??? hehehe.. gk deh, walaupun jelek dah punya pacar bukan berarti aku harus punya pacar juga. B'coz gk semua hal terindah buat orang lain juga hal terindah buat aku ya kan??

Oke hari baru dimulai pasca di tinggal punya pacar, yupp... aku gk boleh lagi ngarep dia telpon-telpon aku tiap malam, gk boleh lagi ngarep dia panggil-panggil aku sayang. Semuanya kubatasin deh, demi menjaga kebaikan dia juga. Kalau boleh jujur aku sebenernya sedih banget hiks... T_T karena aku sayang banget sama jelek... huhuhu... u_u but aku harus tetep hidup walaupun tanpa dia. Setidaknya aku harus belajar merelakan, mungkin dia memang buat aku.

*tabah*

For someone yg baru-baru ini aku kenal, asik ya ngobrol sama kamu. Kita jadi dekat sejak sepekan ini. Banyak hal-hal lucu dan menarik yg kita lihat di dunia sana. Caiiillleeeee... bahasanya... wakakakaakkakk...

*ngakak peluk keyboard* ^o^

Who he pemirsa??? sekali ini namanya kusamarkan aja deh, aku sih panggil dia Bebeh. Kenapa kupanggil bebeh?? gk tau sih, lucu aja gitu kedengerannya wakakakakk... :D ngasal.
Bebeh anaknya asik diajak ngobrol ngarol ngidul walopun yg diobrolin itu gk penting-penting banget. Tapi dia betah gitu seharian nemenin aku sms'an xixixixxi... >_< malahan kemaren dia berjuang dengan gigihnya buat bangunin aku tidur hahaha... nyaris berhasil pemirsa, tapi yah aku sih klo udah tidur gk peduli lagi sama orang-orang disekelilingku. But dari hasil kegigihannya itu aku dikasih julukan baru sama dia "Muka Bantal"
swt dah si Bebeh entah ide dari mana dia sampe mencetuskan julukan sakti itu buatku ckckckcckkckk...

And then, Bebeh temen paling menyenangkan buatku sekarang, setidaknya aku udah gk ngerasa Lonely lagi....

Thanks to Bebeh
... \('o')>
*
Chupa Chupa Cups*